Kamis, 17 November 2011

NILAI SEBUAH KEBERSAMAAN Rp 20.000,-/jam

Seorang pria pulang kantor terlambat, dalam keadaan lelah dan penat, saat menemukan anak lelakinya yang berumur 5 tahun menyambutnya di depan pintu.


“Ayah, boleh aku tanyakan satu hal?”

“Tentu, ada apa?”

“Ayah, berapa rupiah ayah peroleh tiap jamnya?”

“Itu bukan urusanmu. Mengapa kau tanyakan soal itu?” kata si lelaki dengan marah.

“Saya cuma mau tahu. Tolong beritahu saya, berapa rupiah ayah peroleh dalam satu jam?” si kecil memohon.

“Baiklah, kalau kau tetap ingin mengetahuinya. Ayah mendapatkan Rp 20 ribu tiap jamnya.”

“Oh,” sahut si kecil, dengan kepala menunduk. Tak lama kemudian ia mendongakkan kepala, dan berkata pada ayahnya, “Yah, boleh aku pinjam uang Rp 10 ribu?”


Si ayah tambah marah,


“Kalau kamu tanya-tanya soal itu hanya supaya dapat meminjam uang dari ayah agar dapat jajan sembarangan atau membeli mainan, pergi sana ke kamarmu, dan tidur. Sungguh keterlaluan. Ayah bekerja begitu keras berjam-jam setiap hari, ayah tak punya waktu untuk perengek begitu.”


Si kecil pergi ke kamarnya dengan sedih dan menutup pintu. Si ayah duduk dan merasa makin jengkel pada pertanyaan anak lelakinya.


Betapa kurang ajarnya ia menanyakan hal itu hanya untuk mendapatkan uang? Sekitar sejam kemudian, ketika lelaki itu mulai tenang, ia berpikir barangkali ia terlalu keras pada si anak. Barangkali ada keperluan yang penting hingga anaknya memerlukan uang Rp 10 ribu darinya, toh ia tak sering-sering meminta uang.
Lelaki itu pun beranjak ke pintu kamar si kecil dan membukanya.


“Kau tertidur, Nak?” ia bertanya.

“Tidak, Yah, aku terjaga,” jawab si anak.

“Setelah ayah pikir-pikir, barangkali tadi ayah terlalu keras padamu,” kata si ayah.

“Hari ini ayah begitu repot dan sibuk, dan ayah melampiaskannya padamu. Ini uang Rp 10 ribu yang kau perlukan.”

Si bocah laki-laki itu duduk dengan sumringah, tersenyum, dan berseru, “Oh, ayah, terima kasih.”


Lalu, sambil menguak bantal tempatnya biasa tidur, si kecil mengambil beberapa lembar uang yang tampak kumal dan lecek.


Melihat anaknya ternyata telah memiliki uang, si ayah kembali naik pitam. Si kecil tampak menghitung-hitung uangnya.

“Kalau kamu sudah punya uang sendiri, kenapa minta lagi?” gerutu ayahnya.

“Karena uangku belum cukup, tapi sekarang sudah.” jawab si kecil.

“Ayah, sekarang aku punya Rp 20 ribu. Boleh aku membeli waktu ayah barang satu jam? Pulanglah satu jam lebih awal besok, aku ingin makan malam bersamamu.”

:-)

Senin, 14 November 2011

Aku Patut Dihargai

Ada seorang anak kecil yang melihat kelinci-kelinci yang lucu. Ia mendatangi penjual kelinci itu.

Ada banyak anak kelinci yang lucu, dengan berbagai warna. Anak kecil itu melihat ada seekor kelinci yang menurutnya sangat lucu. Ia bertanya pada penjual,
“berapa harga kelinci ini Pak? dan penjual itu pun menjawab “Kelinci inikah yang adek mau? Ini buat adek saja, ini kelinci yang kakinya cacat”

Anak kecil itu kembali membalas “Ayo to Pak, kasih saja harganya berapa?” Dan penjual itupun kembali menjawab “Ini gratis buat adek, tak usah dihargai, inikan cuma kelinci yang cacat”. Anak kecil itu kembali bertanya “Berapa pak?” dan penjual itu kembali menjawab juga “Tidak usah”

Setelah itu anak kecil itu membuka, mengangat celananya, mempertunjukannya pada si penjual itu. Dan ia berkata “Lihat pak, kaki saya juga cacat, sama seperti kelinci itu, tak bisa berlari dan melompat dengan sempurna, Kami juga ingin dihargai pak”.

Sejak itulah si pedagang menangis, dan berjanji akan mendoakan anak itu.
Mungkin saya dan kita sering memandang orang yang cacat itu seperti kelinci lucu itu, ketika ada kekurangan pada diri seseorang kita cenderung untuk tidak menghargai. Seolah-olah itu hal yang biasa, padahal bagi penyandangnya mereka juga ingin dihargai, dan betapa sakit ketika mendapatkan perlakuan yang tak adil.




http://iphincow.wordpress.com/tag/kisah-inspiratif/